Makalah Model Pembelajaran Quantum Teaching

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap pendididkan selalu berurusan dengan manusia, karena hanya manusia yang dapat dididik dan harus selalu dididik. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dikaruniai potensi untuk selalau menyempurnakan diri melalui proses belajar. Tentu sangat logis bagi manusia untuk memilih jalur pendidikan untuk meningkatkan potensi belajarnya. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru berpangkal pada suatu kurikulum, dan dalam proses pembelajaran guru juga berorientasi pada tujuan kurikulum, pada suatu sisi guru adalah pengembang kurikulum, sedangkan pada sisi lainnya guru adalah pembelajar siswayang secara aktif membelajarkan siswa sesuai dengan kurikulum sekolah.

Pada hakekatnya,mengajaritu adalah suatu proses dimana pengajar dan murid menciptakan lingkungan yang baik, agar terjadi kegiatan belajar yang bsrdaya guna,. Untuk mengatasi problematika dalam pelaksanaan pembelajaran,tentu diperlukan model-model mengajar. Menurut Joyce dan Weil ( 2000 : 13 ). Model menjajar adalah suatu deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum, kursus-kursus, desain unit-unit pelajaran dan pembelajaran , perlengkapan belajar, pelajaran , bulu-buku kerja, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program computer.

Quantu Teaching menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses pembelajaran lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan, Quantum Teaching merupakan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar dan berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas ( Deporter,Atal 2000:3 )

Jika sejenak membayangan kelas, ruang kuliah ataupun ruang tempat siswa siswa belajar dan kemudian didalamnya terdengar suara dengungan para siswa yang tertarik dan memperhatikan guru saat menerangkan pokok pelajaran, tangan-tangan teracung dengan antusias, tubuh-tubuh condong kedepan penuh rasa ingin tahu dan gemuruh sukaria penuh dengan perayaan. Maka aka nada rasa keriangan berbagi wawasan dan kehangatan saling tukar perkataan yang menyemangatipara siswa. Keadan ini adalah meupakan efek yang muncul dari pemakaian Quantum Teaching.

B. Rumusan Masalah

Sebelum membahas lebih lanjut, maka perlu adanya rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apakah Quantum Teaching Itu?

2. Bagaimana cara yang tepat untuk mempraktekan model mengakja Quantum Teaching?

3. Apakah dengan model mengajar Quantum Teaching ini dapat meningkatkan motivasi dan semangadt belajar siswa?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Uraian Singkat Model Pembelajaran

Quantum Teaching pertama kalui dipakai oleh Deporter. Mulai dipraktekkan pada tahun 1992.Dengan mengilhami yang terkenal dalam fisika Kuantum yaitu masa kali percepatan cahaya kuadrat sama dengan energy. Dari rumusan itulah dapat didefinisikan bahwa Kuantum adalah sebuah interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya. Dengan demikian, Quantum Teaching berarti pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansannya yang menyertakan segala Kaitan, Interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar dalam kelas. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Sehingga dapat mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. Segala hal yang dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching yaitu setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan metode intruksional dibangun diatas prinsip “Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Hal ini mengingatkan kita pada pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah pertama untuk mendapatkan hak mengajar.

Quantum Teaching diciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligences (Gardner), Neuro-Linguistic programming (Grinder dan Bandler), Experiential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan elements of effective interaction (Hunter). Quantum Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensory, multi kecerdasan dan kompatibel dengan otak, yang pasa akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi.

Untuk menjadi seorang Quantun Teaching, maka seorang guru harus mampu mengorkestrasi pembelajaran sesuai dengan modalitas dan gaya para pengajarnya. Quantum Teacher juga harus mampu mengajarkan keterampilan hidup ditengah-tengah keterampilan akademis, mencetak atribut mental/fisik/spiritual para siswanya. Karena Quantum Teacher harus dapat mendahulukan interaksi dalam lingkungan belajar, memperhatikan kualitas interaksi antar pelajar, antara pelajar dan guru dan antara pelajar dan kurikulum. Selain itu Quantum Teacher juga diharapkan mampu menjalankan tujuh pedoman untuk presentasi yang sukses saat dalam proses pembelajaran. Diantaranya, adalah memahami secara spesifik apa yang guru inginkan terjadi dalam setiap bagian proses belajar, membangun kredibilitas dan membina hubungan yang baik dengan siswa, menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan mereka, mengubah keadaan siswa hingga mencapai keadaan target, melibatkan modalitas siswa, memanfaatkan ruangan dengan baik, dan menyampaikan pesan yang terbuka, jujur dan adail secara tulus dan kongruen.

Model ini dapat digunakan untuk semua matapelajaran pada semua jenjang dan jenis pendidikan, hanya saja diantaranya disesuaikan dengan siapa yang menjadi peserta didik dan apa mata pelajarannya. Model ini merupakan proses pembelajaran yang akrab dan menyenangkan baik bagi peserta didik maupun pendidik dalam proses pembelajaran . Oleh Karena itu, proses pembelajaran ini sangat membutuhkan guru yang menguasai materi ajar dan mempunyai sifat peramah bukan pemarah.

Selain itu Quantum Teaching juga memiliki lima prinsip, atau kebenaran tetap. Prinsip-prinsip tersebut adalah :

1. Segalanya Berbicara

Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran , dari alat bantu mengajar sampai alat peraga, semuanya mengirim pesan tentang belajar.

2. Segalanya Bertujuan

Semua yang terjadi dalam pengubahan mempunyai tujuan, semuanya.

3. Pengalaman sebelum pemberian nama

Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakan rasa ingin tahu, oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum memperoleh nama / konsep yang akan dipelajari.

4. Alat setiap usaha

Belajar matematika jelas mengandung resiko. Belajar terjadi melangkah keluar dari kenyamanan, maka mereka patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.

5. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.

Perayaan adalah serapan pelajaran sukses, perayaan atau pemberian penguatan akan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan emosi positif dalam belajar matematika.

Strategi Pembelajaran Quantum

a. Mengorkestrasikan suasana yang menggairahkan

Suasana kelas adalah penentu psikologi utama yang mempengaruhi belajar akademis menurut Walberg dan Greenberg. Adapun kunci untuk membangun suasana tersebut adalah :

1) Kekuatan Terpendan ( NIAT )

Niat guru atau kekuatan akan kemampuan sangat berpengaruh pada kemampuan iti sendiri untuk dapa memotivasi peserta didik pandangan guru akan lebih cepat.

2) Jalinan Rasa Simpati dan Saling Pengertian

Dengan membangun jalinan rasa simpati dan saling pengertian dapat membangun jembatan menuju kehidupan dunia baru mereka, mengetahui minat kuat mereka dan berbicara dengan bahasa hati mereka.

3) Keriangan dan Ketakjuban

Keriangan dan ketakjuban dapat membawa siswa siap belajar dan lebih mudah dan bahkan mengubah sikap negatif. Bentuk keriangan atau kegembiraan yang biasa digunakan adalah : tepuk tangan, tiga kali hore, wuus, jentikan jari, poster umum, catatan pribadi, persekongkolan, pengakuan kekuatan, kejutan, pujian pada teman sebangku, pernyataan afirmasi dan “wow”.

4) Rasa Saling Memiliki

Rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggungjawab peserta didik misalnya : tepuk, wow,sebelum memulai belajar, menepuk segmen, mengakhiri segmen tertentu.

5) Keteladanan

Memberi teladan adalah salah satu cara ampuh untuk membangun hubungan dan memahami orang lain serta akan menambahkan kekuatan kedalam pembelajaran.

b. Mengorkestrasikan Landasan Yang Kukuh

1) Tujuan Yang Sama

Tujuan yang sama yaitu mengembangkan kecakapan dalam mata prlajaran, menjadi pelajar yang lebih baik dan berinteraksi sebagai pemain tim.

2) Prinsip-Prinsip dan Nilai Yang Sama

Satu set prinsip tersebut adalah 8 kunci keunggulan yaitu : 1) Integritas (kejujuran), 2) kegagalan awal kesuksesan, 3) bicaralah dengan baik, 4) hidup disaat ini, 5) komitmen, 6) tanggung jawab, 7) sikap luwes, 8) kesinambungan.

3) Keyakinan Akan Kemampuan Pelajar, Belajar Dan Mengajar

Seorang guru harus yakin dengan kemampuan belajar siswanya. Mulailah mengajar dari sudut pandang bahwa guru biasa menjadi luar biasa, maka akan berpengaruh pada orang-orang disekitar khususnya peserta didik.

4) Kesepakatan, kebijakan, prosedur dan peraturan.

Kesepakatan : Lebih informal daripada peraturan, dan konkret untuk melancarkan jalannya pelajaran.

Kebijakan : Mendukung komunitas belajar

Prosedur : Memberitahu peserta didik apa yang diharapkan dan tindakan aopa yang diambil

c. Mengorkestrasikan Lingkungan Yang Mendukung

1) Lingkungan Sekeliling

Gunakan poster ikon ( symbol ), poster afirmasi ( motivasi dan gunakan warna ) .

2) Alat bantu yakni benda yang mewakili gagasan.

3) Pengaturan bangku

Misalkan mengatur bangku menjadi bentuk setengah lingkaran untuk diskusi kelompok besar yang dipimpin oleh seorang fasilitator.

4) Tumbuh, aroma, hewan peliharaan dan unsur organik lain dikondisikan dengan serasi.

5) Musik

Musik membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak, merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar baik secara sadar maupun tidak sadar.

d. Mengorkestrasikan Perencanaan Pengajaran Yang Dinamis

1) Dari dunia mereka ke dunia kita

Maksudnya seorang guru harus mampu menjembatani jurang antara dunia siswa dengan dunia gurunya. Hal ini memudahkan guru membangun jalinan antara guru dengan siswa.

2) Modalitas Vak ( Visual Auditorial Kinestik )

a) Visual, ciri-ciri : Teratas, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan, mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan, membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh untuk meningkatkan daya serap membutuhkan untuk dilihat dan diamati senang.

b) Auditorial, ciri-ciri : Perhatian mudah pecah, berbicara dengan pola berirama, belajar dengan cara mendengarkan, dan bersuara saat membaca untuk meningkatkan daya serat menggunakan suara seperti nyanyian, puisi bahkan diskusi.

c) Kinestik, ciri-ciri : mudah Mengingat dan ungkapan wajah banyak bergerak / belajar langsung dengan mengerjakan, senang dengan kegiatan fisik untuk meningkatkan daya serap, memudahkan media, senang dengan kegiatan fisik untuk meningkatkan daya serap, memudahkan media yang dapat dipegang dan disentuj langsung.

d) Model kesuksesan dari sudut pandang

Ada dua factor utama yang membantu menentukan kesuksesan siswa yakni kesulitan pelajaran dan derajat resiko pribadi. Hal-hal yang dapat dilakukan guru untuk kesuksesan siswanya yakni, saat memperkenalkan isi pelajaran selalu menyanyikan dengan menggunakan unsur V-A-K, sering melakukan pengulangan, membuat kelompok kecil untuk memantapkan belajar dan menyelesaikan secara perseorangan.

3) Kecerdasan Berganda bertemu Slum-n-Bil

Kecerdasan yang dimaksud di sini adalah special visual, linguistic verbal, interpersonal, musical ritmik, naturalis badan kinestik dan logis matematika. Tetapi seorang guru harus keluar dari zona nyaman dalam mengajar dan merancang pengajaran siswa harus diber kesempatan mengatur kecerdasan sesuai dengan potensinya.

4) Penggunaan Metafora, perumpamaan dengan sugesti

Metafora dapat membantu menghidupkan konsep-konsep yang dapat terlupakan memunculkannya ke dalam otak secar mudah dan cepat. Perumpamaaan akan memudahkan siswa untuk lebih mengerti susegti memiliki kekuatan mendalam.

B. Karakteristik Model

1. Sintakmatik

Agar proses pembelajarn dengan model quantum teaching ini dapat benar-benar sedinamis mungkin. Maka, perlu melalui tahap- tahapan di bawah ini yang sering dikenal sebagai kerangka rancangan quantum teaching TANDUR yaitu :

ü Tahap pertama: Tumbuhkan

Pada langkah ini guru harus menumbuhkan motivasi dan semangat belajar siswa. Dan memberi tahu siswa bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri, mengaitkan pelajarn dengan masa depan dan berguna dalam dunia nyata. Sehingga mereka tahu apa manfaat dari apa yang sdang mereka pelajari bagi diri mereka biasannya dikenal dengan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku).

ü Tahap Kedua : Alami

Guru memberika pengalamn kepada siswa dan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Karena pengalaman membangun keingintahuan siswa dan dapat menciptakn beberaap pertanyaan dalam benak mereka. Saaat pengalaman terbentang, guru mengumpulkan inforamasi untuk memaknai pengalamn tersebut. Inforamsi ini membuat yang abstrak menjadi konkrit.

ü Tahap Ketiga : Namai

Setelah membuat siswapenasaran, penuh pertanyaan mengenai pengalaman mereka, maka penamaan dapat memuaskan keingintahuan siswa. Penamaan memuaskan hasrat alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Penamaan merupakan informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya. Guru menyediakn kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan sebuah masukan.

ü Tahap Keempat : Demonstrasi

Guru diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untukmenunjukkan bahwa mereka tahu. Guru memberikan peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan mereka ke dalam pembelajaran yang lain dank e dalam kehidupan mereka serta mampu mempergakan tingkat kecakapan mereka dengan pengetahuan ynag baru saja mereka miliki.

ü Tahap Kelima : Ulangi

Siswa diberi kesempatan untuk mengajarkan pengetahuan baru mereka kepada orang lain. Tentunya, dengan menggunaka cara yang berbeda dari asalnya. Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini”. Dan tentunya menunjukan pelajar cara-cara mengulang materi yang telah dibahas.

ü TAhap Keenam: Rayakan

Pada langkah terakhir ini, saatnya untuk memberikan penghormatan atas usaha, keberhasilan dan ketekunan yang dilakukan dengan perayaan. Hal ini akan memperkuat kesuksesan dan memberi motivasi siswa. Perayaan disini dapat dilakukan dengan memberikan pujian, bernyanyi, bermain tepuk, pesta kelas dll.

2. Sistem Sosial

Sistem social model ini menghendaki guru berangkat dari asumsi bahwa guru hanya sebagai fasilitator dan reflector saja. Yang lebih di utamakan adalah keaktifan siswa. Karena siswa bertanggung jawab penuh ataspendidikan mereka sendiri . Peran guru lebih dari sekedar pemberi ilmu pengetahuan, tetapi guru adalah rekan belajar, model, pembimbing dan mengubah kesuksesan siswa. Artinya, kewenagan dibagi antara siswa dan guru. Norma yang berlaku terletak pada kebesbasan berfikir dan berpeilaku saat dalam proses pembelajaran. Ganjaran yang dipakai tidak bersifat hukuman namun perayaan. Karena perayaan dapat memperkuat kesuksesan dan motivasi siswa. Misalnya, berupa pujian,tepuk tangan, empati dari guru,dll. Dan untuk menat asuasana hati siswa, dapat digunakan music saat proses pembelajaran.

Guru menanamkan nilai dan keyakinan yang positif dalam diri siswa. Mengutamakan keberagaman dan kebebasan sebagai kunci interaksi dan bersifat humanistic. Guru juga menyeimbangkan ketermpilan akademis, keterampilan hidup dan prestasi material siswanya. Serta mengintegrasikan totalitas tubuh dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran bisa berlangsung nyaman dan hasilnya optimal.

3. Prinsip-prinsip reaksi

Prinsip-prinsip reaksi dalammodel pembelajaran ini diantaranya adalah

a. Guru mendekati siswa dan menciptakan AMBAK (Apa Manfaatnya BagiKu) da memupuk sikap juara pada siswa. Sehingga siswa memahami bahwa kegagalan itu keberhasilan yang tertunda.

b. Guru memberikan lingkungan belajar yang tepat agar siswa mampu berinteraksi.

c. Mmberikan kesempatan siswa untuk memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki dan berfikir kreatif dalam segala situasi.

d. Guru harus harus mengetahui karakteristik masing-masing siswanya baik itu visual,auditorial atau kinestetik. Agar pembelajaran dapat diterima baik oleh siswa meski mereka mempunyai karakteristik yang berbeda.

e. Merayakan keberhasilan yang telah dilakukan oleh siswa saat mereka mampu menyelesaikan tugasnya. Hal ini akan memacu motivasi dan kepercayaan diri siswa.

4. System Pendukung

Sarana yang dibutuhkan dalam model pembelajaran ini berbeda-beda, tergantung pada fungsi dari pembelajaran itu sendiri. Jika pembelajaran itu berhubungan dengan kontra akademik, maka sumber-sumber yang sesuai harus tersedia. Namun jika pembelajaran itu berbicara tentang penyuluhan terhadap masalah perilaku, maka tidak diperlukan sumber, tapi cukup dengan keterampilan guru dalam menyuluh.

Berdasarkan dua kasus tersebut, maka untuk mengatasinya diperlukan adanya susunan ruang yang memungkinkan untuk pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini. Sehingga kapanpun siswa dapat mengubah posisi duduk mereka sesuai dengan kondisi. Dan hal ini akan memudahkan siswa untuk merealisasikan masalah secara tepat dan memadai tanpa diburu-buru oleh waktu. Selain itu, alunan music juga dapat mendukung konnsentrasi siswa dalam belajar. Serta membuat siswa lebih rileks saat menerima pelajaran.

5. Dampak intruksional dan penyerta

Model pembelajaran Qyuantum Teaching memberikan dampak intruksional pada siswa yaitu :

a. Kemapuan verbal adalah kemampuan untuk mengungkapan pengetahuan dalam bentuk bahasa lisan ataupun verbal.

b. Kemampuan keterampilan intelektual adalah kepekaan yang berhubungan dengan lingkungan serta mempresentasikan konsep dan lambing.

c. Kemampuan kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan kognitifnya sendiri, kemampuaan ini meliputi konsep dan kaidah memecahkan masalah.

d. Keterampilan motoric adalah kemampuan serangkaian jasmani antara koordinasi otak dengan tubuh.

e. Kemampuan sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasar penelitian terhadap objek tersebut.

Disamping itu terdapat pula dampak penyerta, yaitu :

v Menimbulkan semangad kreativitas semangad pada siswa

v Memupuk solidaritas antar siswa

v Menambahnilai dan prestasi belajar siswa

C. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran

Kelebihan model pembelajaran :

1. Dapat membimbing peserta didik kearah berfikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.

2. Karena Quantum Teaching lebih melibatkan siswa, maka saat proses pembelajaran perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.

3. Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.

4. Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.

5. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri.

6. Karena model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar, maka secara tidak langsung guru terbiasa untuk berfikir kreatif setiap harinya.

7. Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.

Kekurangan Model Pembelajaran

1. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.

2. Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.

3. Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian dll. Maka dapat mengganggu kelas lain.

4. Banyak memakan waktu dalam hal persiapan.

5. Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.

6. Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan. Sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

D. Uraian Singkat Pemecahan Masalah

Berdasarkan uraian diatasat diketahui bahwa Quantum Teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segakla nuansanya yang menyertakan segala kaitan interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan mpmen belajar. Cara yang tepat untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah dengan Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR.

Proses pembelajaran dibuat sedemikian rupa sehingga pembelajaran tidak tersa menbosankan. Namun sebaliknya, menjadi nyaman dan menggairahkan minat dan motivasi siswa. Yaitu dengan membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Memberikan kesempatan tiap kelompok untuk terlibat langsung dengan pembelajaran dari guru. Kemudian menyuruh siswa mempraktekannya kembali dan selanjutnya menyimpulkan apa yang sedang dipelajari. Setelah siswa selesai menyimpulkan kemudian klakukan perayaan untuk menghargai usaha yang telah dilakukan oleh siswa.

Perayaan dalam hal ini, adalah bukan perayaan yang penuh kemewahan. Namun, yang dimaksud perayaan disini adalah suatu [enghargaan saja. Biasanya pujian untuk memotivasi, tepuk tangan, memberikan selamat, jentikan jari, nyanyian dan lain-lain.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Mata Pelajaran : Matematika

Satuan Pendidikan : SMA

Kelas / semester : X / I

Pokok Bahasan : Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel

Alokasi Waktu : 1 x 20 menit

I. Standar Kompetensi

Menerapkan sistem persamaan linear tiga variabel dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear tiga variabel.

II. Kompetensi Dasar

1. Menggunakan sifat dan aturan tentang sisitem persamaan linear dalam pemecahan masalah

2. Merancang model matematika yang berkaitan dengan persamaan linear, menyelesaikan modelnya dan menafsirkan hasil yang diperoleh.

III. Indikator

1. Menjelaskan pengertian dan arti penyelesaian suatu sistem persamaan linear tiga variabel.

2. Menentukan penyelesaian sistem persamaan linear tiga variabel dengan substitusi dan eliminasi.

3. Menentukan sistem persamaan linear tiga variabel dalam kehidupan sehari-hari.

IV. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa dapat mendeskripsikan arti dari persamaan linear.

2. Siswa dapat menentukan penyelesaian sistem persamaan linear tiga variabel.

3. Siswa dapat memberikan tafsiran terhadap solusi dari suatu masalah.

V. Metode dan Model Pembelajaran

Metode : inkuiri, ekspositori, diskusi, tanya jawab

Model : pembelajaran kuantum (quantum teaching)

VI. Langkah – langkah Pembelajaran

A. Kegiatan Awal

1 Guru memberi salam pembuka dan mengontrol kehadiran siswa.

2 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

3 Guru menyampaikan model pembelajaran yang akan digunakan yaitu model Quantum Teaching.

4 Guru memotivasi siswa dalam kerangka rancangan Quantum Teaching yaitu TANDUR.

5 Guru menyampaikan apersepsi.

B. Kegiatan Inti

1 Guru memutarkan musik instrumental dengan tujuan merilekskan pikiran, hati, memusatkan pikiran.

2 Guru menunjukkan sebuah poster afirmasi dengan tujuan menumbuhkan minat belajar dengan siswa.

3 Guru menjelaskan materi sistem persamaan linear tiga variabel.

4 Guru memberikan contoh soal.

5 Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 5 – 6 siswa.

6 Guru membagi lembar kerja kepada masing-masing kelompok.

7 Masing-masing kelompok mendiskusikan permasalahan yang diberikan dengan diiringi musik instrumental.

8 Guru mengontrol dan membimbing kerja kelompok.

9 Guru meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.

10 Guru memberi kesempatan kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan.

11 Guru mengevaluasi hasil diskusi tiap-tiap kelompok.

12 Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang mempresentasikan dengan baik.

13 Guru memberi ulasan / penegasan materi yang dipelajari.

C. Kegiatan Akhir

1 Guru bersama-sama siswa menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari.

2 Guru meminta siswa untuk mempelajari materi yang telah dipelajari.

3 Guru memberikan tugas rumah.

4 Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam penutup.

VII. Penilaian

A. Prosedur Penilaian

1 Keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan.

2 Kerjasama siswa dalam kelompok.

3 Minat belajar siswa dalam menerima pelajaran.

4 Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal.

B. Alat Evaluasi

1 Jenis Tes : Tertulis dan lisan

2 Bentuk Tes : Uraian

3 Tugas : Kelompok


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari makalah yang telah dibahas di atas dapat disimpulkan bahwa

1. Quantum Teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar yang berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas.

2. Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching dikenal sebagai TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai, Demontrasikan, Ulangi, Rayakan)

3. Dengan model pembelajaran Quantum Teaching, Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel menjadi sangat mudah dan menyenangkan. Sehingga semangat dan motivasi siswa menjadi sangat tinggi.

B. Saran

1. Agar penggunaan model Quantum Teaching ini dapat berjalan, maka diperlukan kreatifitas yang tinggi bagi seorang guru.

2. Sebaiknya penggunaan model harus sesuai dengan materi yang diajarkan.

3. Guru harus mampu melibatkan semua siswa saat proses belajar mengajar. Maka, yang harus dilakukan adalah merubah posisi tempat duduk siswa.

4. Bila diperlukan gunakan music untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa dan mendukung lingkungan belajar. Karena music membantu pelajar bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak.

1 komentar:

Kode Smiley Untuk Komentar


:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t