Makalah Pengaruh RUU APP Terhadap Sektor Pariwisata Bali

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pembahasan akan RUU APP (Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) sudah dimulai sejak tahun 1997 di DPR. Sebelum dan setelah disahkannya RUU APP pada tanggal 30 Oktober 2008, banyak kalangan yang menuai pro dan kontra. Itu disebabkan karena negara Indonesia terdiri dari beribu pulau, kebudayaan, sejarah yang berbeda-beda, dan pola pikir masyarakat yang berbeda pula. Jadi fungsi dan kegunaan UU pornografi setiap daerah di Indonesia tidak selalu menguntungkan dan tidak selalu merugikan.

RUU ini juga dianggap tidak mengakui kebhinnekaan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama. RUU dilandasi anggapan bahwa negara dapat mengatur moral serta etika seluruh rakyat Indonesia lewat pengaturan cara berpakaian dan bertingkah laku berdasarkan paham satu kelompok masyarakat saja. Padahal negara Indonesia terdiri diatas kesepakatan ratusan suku bangsa yang beraneka ragam adat budayanya. Ratusan suku bangsa itu mempunyai norma-norma dan cara pandang berbeda mengenai kepatutan dan tata susila, salah satunya adalah Bali.

1.2 PERMASALAHAN

1. Sejarah Pariwisata Bali

2. Pengaruh UU APP terhadap sektor Pariwisata Bali

3. Tujuan RUU

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 SEJARAH PARIWISATA BALI

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali ditemukan oleh orang Belanda tahun 1579 dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun yang dikiranya merupakan pulau penghasilkan rempah-rempah. Setelah mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah. Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai daya tarik tersendiri. Pulau tersebut oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.

2.2 SEKTOR PARIWISATA BALI

Bali tidak bisa dipisahkan dari sektor pariwisata. Kebudayaan dan alam indah pulau nali membuat banyaknya wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Bali membuat sektor ini sebagai penghasil terbesar perekonomian di Bali. Lebih dari 30% kontribusi ekonomi Bali disumbangkan dari bisnis yang berhubungan langsung dengan sektor pariwisata (hotel - restoran - transportasi). Bahkan dengan studi penghitungan input out secara nasional, terbukti bahwa pariwisata di Bali adalah sektor yang sangat besar.

Namun dengan adanya RUU APP dimungkinkan penghasilan dari sektor pariwisata di Bali akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan oleh :

2.2.1 WISATAWAN ASING BALI

Pengaruh UU APP terhadap wisatawan asing Bali kemungkinan turis-turis asing yang ingin berjemur di pantai kuta mengunakan pakaian bikini akan dilarang dan akan membuat wisatawan tersebut segan untuk berkunjung ke Bali. Karena turis asing berpakaian hanya menggunakan kain disekitar dada dan sedikit dibawah perut. Hal ini akan berpengaruh sekali pada minat wisatawan berkunjung ke bali apalagi bali sangat bergantung pada sektor pariwisatanya.

Tentu hal ini dapat merugikan masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkaitan. Di lain sisi kebudayaan yang ada di bali perlu dijaga dan dilestarikan supaya tidak terpengaruh oleh budaya luar atau asing, di sini di perlukan suatu peraturan misalnya undang-undang pornografi untuk mengatur kebiasaan masayarakat seperti kebiasaan berpakaian yang sopan baik sehari-hari maupun hari-hari suci.

Selain adanya peraturan juga tak lepas dari kesadaran masyarakat itu sendiri. Bila hal ini terwujud, orang asing yang berkunjung ke bali akan lebih menghormati budaya yang ada atau mungkin budaya orang asing akan mempelajari budaya yang ada khususnya di bali.

2.3 BALI MENGANCAM AKAN KELUAR DARI NKRI

Masyarakat Bali mengancam akan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI) bila RUU APP diberlakukan. Ancaman tersebut disampaikan oleh Ketua DPD KNPI Bali I Putu Gede Indriawan Karena dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya dalam dialog mengenai RUU APP di Kantor Gubernur Bali, Denpasar pada hari Jumat, 3 Maret 2006.

Dialog tersebut dihadiri oleh ratusan tokoh masyarakat Bali. Antara lain dari Pemprov Bali, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, agamawan, intelektual, Lembaga Suwadaya Masyarakat, mahasiswa, kalangan parisawata, seniman, dan budayawan. Juga hadir mendengarkan berbagai pendapat masyarakat Bali, anggota Pansus RUU APP DPR yang dipimpin Yoyoh Yusroh. “Kalau RUU ini diberlakukan, kami tidak segan-segan keluar dari NKRI,” kata Indriawan disambut gemuruh teriakan merdeka dari peserta dialog.

2.4 TUJUAN RUU APP

RUU APP bukan untuk menyeragamkan budaya, bukan untuk menyeragamkan dalam berpakaian, bukan untuk memaksakan aturan suatu agama. RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/ suku yang masih berpakaian atau pola hidup yang tertinggal, dan bukan untuk menangkapnya. Kenapa? Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya. Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka lebih beradab dalam era globalisasi ini.

RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi, karena tidak ada satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi. RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan, tidak untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan), tidak ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami. RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang. RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya bukan dengan mempertontonkan tubuhnya.


BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

RUU APP tidak dimaksudkan untuk mengubah tatanan budaya Indonesia, tetapi untuk membentengi akses negatif pergeseran norma yang efeknya semakin merebak. Namun terdapat salah satu pelaksanaannya yaitu yang menyatakan adat-istiadat ataupun kegiatan yang sesuai dengan pengamalan beragama tidak dikenakan sanksi. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan adat-istiadat dan pariwisata di Bali tidak mengalami kendala.


DAFTAR PUSTAKA

http://ruuappri.blogsome.com/2006/06/07/bali-mau-merdeka/

http://www.balichemist.com/infokes/sejarah_pariwisata.html

http://id.wikipedia.org/wiki/RUU_Pornografi#Definisi_dan_Rancangan

http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Kenapa-Bali-Menolak-RUU-APP

http://jiwamerdeka.blogspot.com/2006/02/sikap-komponen-rakyat-bali-terhadap.html

0 komentar:

Kode Smiley Untuk Komentar


:a   :b   :c   :d   :e   :f   :g   :h   :i   :j   :k   :l   :m   :n   :o   :p   :q   :r   :s   :t